Hikmah Pilkada: Merajut Kembali Tali Persaudaraan

1 77

 

Oleh : Ahmadiansyah (Pegiat Literasi NTB)

Akhirnya, perhelatan panjang pesta demokrasi telah usai. Berbagai macam reaksipun telah mewarnai selama proses pergelaran hajatan lima tahunan ini terjadi. Dan patut di syukuri bahwa pesta hajatan kali ini tidak sampai berujung pada konflik yang biasanya selalu terjadi dan Bahkan berpontensi sangat tinggi. Walaupun terkadang masih saja ada sebagian yang mulai bersinggungan untuk saling menyakiti.
Memang sebenarnya wajar saja jikalau ada perasaan kecewa ataupun perasaan senang berlebihan ketika kalah-menang dalam berkontestasi. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa fanatisme selalu menjadi puncak nadir dalam demokrasi. Namun semua harus kembali pada fitrahnya masing-masing bahwa sikap semacam itu sudah seharusnya untuk dihindari. Oleh karenanya, sudah saatnya kita kembali kepada aktivitas semula, tentu dengan perasaan berbesar hati. Yang menang tidak perlu menyombongkan diri dengan meng-ejek kelompok yang tidak terpilih. Begitupun sebaliknya, yang kalah tidak perlu membangun narasi yang dapat mengundang provokasi.
Petani kembalilah dengan sabit dan cangkulnya di tengah perladangannya. Nelayan juga sama, bersibuklah dengan sampan dan kapal kecilnya dalam mengikhtiarkan rezeki yang telah dititipkan Tuhan ditengah lautnya. Begitupun juga pedagang, untuk segera menyediakan segala jenis produk komoditas untuk kebutuhan hidup masyarakat yang ada, serta para guru dan pegawai lainnya untuk tetap pada jalur yang mendidik dan mencerdaskan generasi bangsanya.
Dan untuk pemerintah yang kembali naik tahta. Ketahuilah bahwa sesungguhnya memimpin adalah menderita. Tidak ada yang perlu untuk di lebih-lebihkan dengan terlalu memuji keberhasilan yang ada. Semuanya adalah tanggung jawab yang dititipkan oleh Tuhan yang Maha Kuasa dan akan dipertanggung jawabkan kelak. Oleh sebab itu, berkuasalah tanpa ada rasa berkuasa, karena pada hakikatnya kuasamu hanyalah titipan Tuhan semata.
Untuk itu, melalui kolom singkat ini penulis ingin menyampaikan beberapa pesan yang mungkin bisa dijadikan sebagai bahan renungan bersama yaitu:

Pertama: Merajut Kembali Persaudaraan.
Sejak masa pemerintahan sultan pertama di pertengahan abad 17, Sultan Abdul Kahir, masyarakat Bima sudah dikenal sebagai pemilik rasa persaudaraan yang kuat. Kebiasaan ini begitu melekat pada kehidupan bermasyarakat hingga saat ini. Sebut saja diantaranya ketika ada kegiatan seperti Mbolo Weki (musyawarah/mufakat), Teka ra Ne’e (pemberian sumbangan), atau kegiatan-kegiatan lain seperti Hanta Ua Pua sebagai budaya penyambutan maulid Nabi Muhammad SAW. Seluruh masyarakat bisa dipastikan bahwa mereka akan memeriahkan kegiatan-kegiatan tersebut.
Selain itu, kebiasaan bersama ini tidak hanya dihidupkan di daerahnya saja. Karena memang sudah terpatri dalam jiwa masyarakat secara keseluruhan. Ketika di tanah rantauan misalnya. Sampai saat ini, belum ada yang mampu menandingi kebersamaan sosial-masyarakat yang dibangun oleh orang Bima. Masyarakat daerah lain telah mengakuinya, bahwa kebersamaan orang Bima-lah yang paling solid dibandingkan dengan masyarakat-masyarakat daerah lain.
Di setiap sudut jalanan perkotaan ataupun daerah tempat mereka rantau, disitu pasti terdapat orang Bima yang sedang saling merawat persaudaraannya dengan cara duduk-duduk bersama (kaboro weki sama), pengadaan kegiatan pawai bersama serta jenis kegiatan lainnya. Hal ini tentu menjadi suatu hal yang patut disyukuri oleh masyarakat Bima sebenarnya.
Oleh karena demikian, tidak patut kiranya ketika hanya permasalahan politik saja, kebiasaan mulia kita di degradasi oleh nafsu yang tak terbayarkan itu. Mencaci, memaki, menghina, menjatuhkan serta perbuatan-perbuatan tercela lainnya bukanlah sikap asli dari masyarakat Bima, yang sangat dikenal dengan tingkat kesolidan nya.
Bukankah sebagai daerah yang sangat menjunjung tinggi nilai keagamaan dan kebudayaan, pasti sulit untuk menjadi saling cerai-berai? Bagi umat islam sendiri, hal ini telah disampaikan oleh Allah SWT dalam Al-Quran bahwa kita tidak diperbolehkan bagi manusia untuk saling berselisih diantara satu sama lain.
“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar” (Q.S Al-Anfal, 8:46).
Sebagai sesama orang yang beriman, sudah seharusnya mengetahui bahwa saling berselisih diantara satu dengan yang lain termasuk perbuatan tercela dan sangat tidak disukai oleh Tuhan dan Rasul-Nya. Sebab, tentu hal inilah yang merupakan faktor utama dari rasa kebersamaan yang runtuh.

Kedua: Kembali pada Semboyan “Nggusu Waru (Maja Labo Dahu)”
Periode islam di daerah Bima tumbuh sekitar tahun 1621 – 1640 M. Sejak itulah penanaman nilai keislaman melekat pada diri masyarakat Bima; misalnya melalui perasaan malu dan takutnya (maja labo dahu).
Perasaan ini walaupun awalnya ditanamkan hanya untuk takut kepada Allah sebagai Tuhannya, namun juga akhirnya diaplikasikan dalam konteks kehidupan sosial-masyarakatnya. Tentunya dengan pertimbangan-pertimbangan yang sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dan juga kebudayaan. Sehingga, Maja labo dahu dimaknai sebagai rasa malu dan takut untuk melanggar perintah agama maupun budaya yang berlaku.
Sejak saat itu, Maja Labo Dahu menjadi falsafah hidup yang selalu di pegang teguh oleh masyarakat Bima hingga saat ini. Dan melalui semboyan ini, masyarakat bima dapat menyeimbangkan kewajiban vertikal kepada Tuhan dengan persamaan hak horizontal antar manusia.
Dan melalui semboyan ini juga seharusnya kita dapat menjadi masyarakat yang lebih baik lagi dalam kehidupan bersama, berdamai serta saling berterima antara satu sama lain. Belajarlah untuk takut kepada Allah SWT atas perbuatan tercela kita terhadap orang lain dan malu-lah ketika sikap dan tingkah laku kita tidak sesuai dengan karakter masyarakat Bima yang sebenarnya.
Untuk itu, mari kita kembali saling sapa dan saling mengenal antara satu sama lain, sebagaimana awalnya Tuhan telah menyatukan kita dari berbagai macam perbedaan yang ada.
“Dan Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti” (QS. Al-Hujurat Ayat 13).

Ketiga: Bersama-sama Membangun Daerah
Kita sebagai masyarakat yang sekaligus pelaku kehidupan di daerah Bima harus meyakini bahwa pilkada merupakan ajang pertaruhan bagi kualitas masa depan daerah. Maka siapapun pemenangnya, ia adalah harapan masyarakat seluruhnya tanpa terkecuali.
Pemerintah terpilih memang memilih tugas utama untuk segera memberikan langkah-langkah tepat dan efektif dalam membangun Dana Mbari orang Bima tanpa membeda-bedakan golongan masyarakatnya. Di sisi lain, masyarakat juga harus terus bersinergi; untuk mendorong dan melakukan kerjasama secara kolektif demi kemajuan daerah Bima tercinta.
Oleh karena itu, penting kiranya untuk kembali membangun persatuan setelah perhelatan dunia politik ini selesai. Bagi para pemenang, berbesar hatilah untuk merangkul kelompok yang kalah. Pun juga sebaliknya, kelompok yang kalah juga harus memberikan support atau dukungan kepercayaan kepada kelompok pemenang. Itulah pemenang sejati, merubah lawan menjadi lawan, merangkul bukan Memukul dan mempersatukan bukan memecahkan.

(Redaksi TR NTB)

Slide ADS

iklan NTB
iklan NTB
iklan NTB
iklan NTB
iklan NTB iklan NTB iklan NTB iklan NTB
  1. Redaksi ntb berkata

    Alhamdulillah.. Makasih Doanya pak.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!