Sumur yang Tak Pernah Kering, Sebuah Teori Kekuatan Branding Dalam Bisnis

0 90

Oleh : Kang Sue (Penulis adalah praktisi Kewirausahaan Dan Aktivis Sosial

Sesaat penulis terbelalak, seorang kawan bercerita: usaha rokoknya baru setahun tutup ?! Hemnnn… Sesuatu yg seharusnya tak mungkin.

Yap, mungkin kalau anda dagang sapi, ditutup dalam setahun itu normal. Rokok, bahkan hari ini gratis-pun: seorang perokok tak mungkin segera memutuskan membeli esok hari. Bisnis rokok : adalah bisnis branding.

Tentu bagi orang bergelut dalam bisnis usaha memproduksi rokok : 99%* adalah kerja branding. Ingat, usaha rokok mirip dengan usaha media, usaha kopi, dan beberapa produk yg memiliki kadar ‘candu’. Produksi itu sudah dirancang bahkan sejak bisnis plan belum dibuat, meskipun di perjalanan selalu ada inovasi. Tak ada yang mampu membangun bisnis rokok dalam setahun untung. Secara nalar juga tak mungkin.

Analisa kecil dibenak penulis, ada 2 faktor yang membuat tutup 1 tahun. (1) usaha tidak dirancang dengan bisnis plan yg benar (2) sengaja oleh pengelolanya diberhentikan agar mendapat keuntungan sesaat, anda tak beruntung bertemu orang jujur dan cerdas.

Nah, bercermin dari itu, tiap usaha ‘candu’ wajib berhati-hati.

Anda tahu koran Indopost? Sebuah koran besutan Jawa Pos di Surabaya terseok-seok di Jakarta. Padahal kita semua tahu, Jawa Pos adalah Jawara di Jawa Timur. Dengan bahkan efisiensi produksi (redaksi dan kertas) Indopost di Jakarta tak pernah menjadi juara, bahkan nomor 3 pun sulit.

Tapi ingat, Jawa Pos di Jawa Timur tetaplah menjadi warga Jawa Timur. Merk Jawa Pos sudah nempel dipikiran dan hati orang Jatim. Jawa Pos di Jawa Timur juga berdarah-darah untuk menyakinkan pembaca koran. Bukan 1 tahun mereka diterima pasar, bukan 2 tahun, mereka di Jawa Pos berjuang hingga diatas 10 tahun baru mampu merambah seluruh Jawa Timur.

Itulah branding. Bukan sekedar anda membuat merk (tanda, sign) lalu anda melakukan branding. Bukan, branding adalah merk/tanda yang dikelola sedemikian hingga menjadi kebutuhan (needs), kebanggaan (pride), identitas (identity) bagi pengguna.

Pebisnis itu berbeda dengan pedagang atau bahkan pekerja. Seorang yg memahami bisnis, tentu mengambil langkah untuk mengelola branding, daripada mengejar keuntung sesaat. Artinya, bisnis yang benar harus menyisihkan anggaran, pikiran, strategi untuk mengelola branding. Bertempur mengatasi kendala atas persaingan. Bahkan jika anda berpegangan pada bisnis yg berpijak pada branding, anda tidak akan sekalipun mengecewakan konsumen, jika terpaksa terjadi segera minta maaf dan perbaiki.

Yah, begitulah.. Ketika ada berbisnis, satu hal yang harus kita lakukan: branding. Karena itu hal pokok ketika bisnis anda adalah bisnis untuk anda jadikan ladang uang dan kejayaan. Ya, ciptakan ‘candu’ dimasa nanti (yang telah dicitrakan dalam bisnis plan) ciptakan efek ketagihan hingga pengguna tak bisa menghentikannya.

Jika itu terjadi, bisnis anda seperti sumur yang tak pernah kering. Bahkan anda bisa wariskan branding untuk anak cucu.

Pelajari brand-brand lokal, brand nasional dan internasional, lihat apa yg mereka lakukan diawal usaha. Keberlangsung usaha tetap menjadi tolok ukur dalam membangun branding.

Budget untuk Branding? Jika anda manager hebat, anda tak perlu risau. (baca uraian branding berikutnya)

Kunci awal dalam bisnis tetap saja adalah kejujuran, cerdas dan sustainable. Ketika anda mendapat partner/kenalan orang jujur dan cerdas, jangan pernah tinggal dia. Minimal jadikan dia konsultan bisnismu. Begitulah pebisnis, sapa pagi hari adalah bagian anda membangun branding. Sadari itu.

_Selamat mencoba_
*Kang Soe*

Slide ADS

iklan NTB
iklan NTB
iklan NTB
iklan NTB
iklan NTB iklan NTB iklan NTB iklan NTB

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Do NOT follow this link or you will be banned from the site!